MAIA ROSYIDAH
Maia Rosyidah lahir di Salatiga, 29 November 1988. Sejak usia 7 tahun sudah memiliki hobi membaca dan menulis. Maia melalui pendidikannya dari sang Ibu di rumah. Kemudian melanjutkan ke SD Tingkir Tengah 02 dan siangnya belajar agama di sebuah Madrasah Pesantren yang ada di dekat desanya. Sambil bersekolah dan mendalami agama, dia terus menekuni dunia menulis dan film secara ottodidak.
Selepas SD, Maia melanjutkan belajar agama di Pesantren Salaf milik KH.Abdullah Rasyad dan putra beliau, KH. Munawir di Krapyak Yogyakarta selama satu tahun. Sambil mondok, dia tetap menulis dan belajar tentang film melalui Koran dan Majalah, karena belajar tentang TV dan Radio dilarang di pesantren tersebut. Kemudian belajar agama lagi di Pesantren milik KH.Ali Maksum selama empat tahun sambil bersekolah MTs (SMP) dan berlanjut hanya sampai kelas 1 MA (SMU).
Prestasinya selama di sekolah tidak pernah bagus. Maia juga pernah tinggal kelas. Selepas ujian semester kelas 1 SMU, dia memilih putus sekolah dan pulang ke Salatiga. Sampai di Salatiga, pertengahan tahun 2005 Maia bergabung di Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah atau sekarang Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT). Karena tahun tersebut KBQT belum terselenggara SMU, Maia akhirnya memutuskan untuk mengulang ke SMP.
Dari sini, karya – karya tulisnya mulai bermunculan di media massa, cetak dan elektronik. Artikelnya tentang Aceh dimuat di Suara Merdeka selama 6 edisi berturut – turut. Artikelnya tentang Pendidikan dimuat di Media Indonesia. Novelletnya yang berjudul JaJa (Jagoan Jakarta) dimuat di majalah anak Rock, Gradasi. Dia juga melakoni wawancara tentang pendidikan di KOMPAS, Jawa Pos, Solo Pos, Media Indonesia. Juga stasiun TV seperti Metro TV (OASIS), TV One, RCTI, TVRI dan stasiun TV lokal seperti TVB, JakTV, DII TV, Pro TV. Juga wawancara di radio Internasional BBC.
Novelnya antara lain berjudul Kia Tawuran / Tarian Cinta (Matapena, 2007) dan Sekolahku Bukan Sekolah (Matapena, 2009). Karya Nonfiksi berjudul Gus Dur Asyik Loh terbit di Wahid Institude Jakarta. Sementara Novel Jean Satria’s Love Poems dan Antologi Puisi ‘Bendera Setengah Tiang’ terbit melalui jalur indie. Juga banyak novelnya yang masih tersimpan dalam file, antara lain : Rockmantis, Lovely Fathima-Ali, Catatan Seorang Novelis, JB Comes to Depok dan lain – lain.
Maia juga kerap hadir sebagai Narasumber di hadapan para dosen dan mahasiswa UI, UNJ, UNDIP, Universitas ternama lainnya. Tahun 2007 diundang di kantor Direktorat Jakarta.
Akhir 2007 berangkat ke Aceh atas Rekomendasi sebuah Lembaga Internasional sebagai relawan untuk memotivasi anak – anak korban gempa dan tsunami. Agustus – September 2008 kembali ke Aceh. Dan awal korban gempa di Pariaman, Padang Sumatera Barat.
Di sekolah Qaryah Thayyibah, Maia bersama teman – temannya telah mendirikan Teater bernama Teater Gedhek, mendirikan Production House bernama MR. Cinemages dan menggagas UK (Universitas Kehidupan). Naskah teaternya diapresiasi oleh media massa, cetak dan elektronik, antara lain : Sajak Orang Gila, BOBROK, Jilumpet Mati Pet, Sajak 99 Nama dan lain – lain.
Maia juga menekuni bidang ilmu Al-Quran & Tafsir dan mengkajinya di berbagai majelis dan forum diskusi.
Itulah sepenggal cerita dari Novelis muda Maia Rosyidah, masih banyak hal positif yang bisa kita pelajari dari Perempuan muda ini, dan bagi saya Maia bukan hanya sahabat namun guru muda yang mengajarkan banyak hal, dari setiap sudut pandangnya akan kehidupan. Lewat tulisan – tulisannya saya mendapatkan penyegaran akan konsep-konsep ideologi penuh karakteristik, Maia mempunyai keberanian yang mungkin jarang kita jumpai dari seorang pemuda seumuran dia. Kontroversi yang sering dia hadapi merupakan makanan sehari-hari baginya, namun bukan Maia namanya jika dia harus berhenti berkarya hanya karena hujatan dan cemooh yang dilayangkan kepadanya. Kesungguhan dia dalam belajar dan mencari ilmu setinggi-tingginya menginspirasi saya untuk tetap mempelajari segala hal dari segi manapun. Seiring berjalannya waktu karya dia semakin bervariasi dalam segala bidang, bahkan dalam segi politik pun ikut andil untuk memberikan apresiasi lewat pemikiran dia yang patut diperhitungkan oleh Pemerintah Republik ini.
Semoga Maia selalu di berikan kesehatan lahir bathin agar dia tetap bisa berkarya sampai kapanpun, dan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua yang saya dapat, saya pelajari darinya…













Januari 10, 2012 pada 4:37 pm
aku suka ini…….
blog yang indah>>>
Februari 2, 2012 pada 4:00 am
MENGINSPIRASI SEKALI.!!
to: mbk Maiya Rosyidah..
keren bangett..